REFLEKSI DI BULAN SYAWAL

Super Admin PDPM 29 March 2026
REFLEKSI DI BULAN SYAWAL

Menjadi kader Muhammadiyah itu sungguh tidak ringan dan justru di situlah paling besar letak kejujurannya.

Kita acapkali bangga menyebut diri bagian dari gerakan yang besar ini, tetapi seringkali lupa bertanya: sudah sejauh mana kita benar-benar hidup di dalamnya, bukan sekadar berlindung di bawah nama besarnya?

Menjadi seorang kader bukan melulu soal hadir di forum, mengenakan atribut mentereng,atau lantang mengutip jargon. Itu mudah. Yang sungguh berat adalah menjaga nyala komitmen saat tidak ada yang melihat. Yang sungguh berat adalah tetap lurus ketika godaan untuk menyimpang terasa lebih menguntungkan dan menggiurkan. Yang sungguh berat adalah berani berbeda, bahkan ketika harus berhadapan dengan arus yang lebih nyaman tapi salah arah.

Sering kali kita ini terjebak pada romantisme sejarah, membanggakan para pendahulu tanpa mau menanggung beban perjuangannya. Padahal, menjadi seorang kader artinya harus siap digerus oleh tuntutan zaman, diuji oleh konsistensi, dan dikritik oleh keadaan. Bukan sekadar meneruskan nama, tapi menghidupkan ruh.

Mari sejenak kita jujur kadang kita lelah, kadang kita lalai, bahkan kadang kita lebih sibuk mengurus citra daripada makna. Kita ingin disebut kader, tapi enggan ditempa sebagaimana kader seharusnya. Kita ingin dihormati, tapi lupa bahwa kehormatan itu lahir dari pengorbanan, bukan pengakuan.

Muhammadiyah tidak butuh kader yang sekadar ramai di permukaan. Yang ramai mengaku anggota ketika AUM membuka lowongannya. Yang merasa paling berjasa ketika duduk dalam jabatannya. Ia butuh manusia-manusia yang sadar tujuan persyarikatan, teguh dalam prinsip, dan ikhlas dalam pengabdian.

Jika hari ini terasa berat, itu bukan tanda kita salah jalan, justru itu tanda kita sedang berada di jalan yang benar. Karena menjadi kader Muhammadiyah memang bukan tentang kemudahan, melainkan tentang kesediaan untuk terus belajar dan memperbaiki diri, mempersembahkan yang terbaik untuk ummat dan lingkungan bahkan ketika tidak ada tepuk tangan.

Dan mungkin, otokritik paling jujur adalah, jangan-jangan selama ini kita ingin menjadi bagian dari Muhammadiyah,tanpa benar-benar mau menjadi kadernya.

-Gesang Triwigati, S.Pd., M.Pd_
Bendahara Umum PDPM Karanganyar


Chatbot Icon
Asisten Virtual PDPM